Jumat, 05 Januari 2018

fly like butterfly (2)

misi Kupu-kupu (2)
berlanjut ajang perburuan kecil. Jika sebelumnya cukup kami amati dan foto sesuai fokus jarak. Kali ini jajal metode catch & release, meski kudu disiasati pake jaring ikan. Leptosia nina, famili dari #Pieridae. jadi tangkapan perdana. Jenis yang paling mudah dari lainnya. Sinergikan info biota-data dengan buku panduan lapangan edisi TWA Kerandangan rilisan BKSDA-NTB. 
Ukur size dan sekedar bikin catatan kecil seputar keragaman jenis yang rela tandang di kebun kami. Dibikin repot oleh Graphium agamemnon, famili #Papilionidae yang terlalu lincah untuk diburu. Saking penasaran, santroni tanaman inang-nya #Annonaceae. Ada sirsak dan srikaya. berharap nemu telur, larva atau kepompong disana. Malah panen buah srikaya! balik badan....,

Identifikasi berlanjut. Papilio polytes jantan berhasil ditangkap. mungkin masih tahapan imago remaja...penampakan 'swallowtails' belum julur sempurna. Satu lagi Papilio sp...alias gak ketauan persis jenisnya. Beberapa jenis lain lalu-lalang tapi kesulitan ditangkap. Aksi terbang terlalu random...sulit ditebak arah pola navigasi. Mengikuti polah mereka butuh semacam energi kelincahan extra. Kayak kerah jurus kungfu tanpa bayangan. Paling tidak ini testimoni pribadi. 
Semisal kasus, kami sibuk uber kupu-kupu. Nyelonong tetangga bermotor lewat.. nyeletuk "nyari di pantai sana loh banyak". Justru bikin kami makin terpingkal tak bertepi... gak tanya cari apa, justru berprasangka kami sibuk uber ikan. Di aspal gang lagi! Ini yang gak waras siapa???? 

Tepatlah analisa yang terbayangkan sejak dulu. Kegiatan ini jika dikemas paket wisata akan membutuhkan target pangsa pasar minat khusus. Bukan silabus wisata konvensional. Jika tidak dicermati trend dan keterkaitan kalangan hobbiest berwawasan tematik khusus pemerhati lingkungan. Bakal sulit nyambung. Hanya tamu yang notabene punya jiwa ekologiwan yang bisa di'jaring' pada aktivitas wisata tematik ini. Setidaknya silamulasi penyambutan tamu Korea di TWA Gunung Tunak beberapa waktu lalu seperti mencerminkan situasi itu.
Selebihnya, imbuh kegiatan ini adalah mengamati perubahan periodik instar. Berganti-nya kostum larva sesuai alih hari. Klo cuma mau visual instan, gak usah repot...saya cukup anjur pelotot youtube. Tuntas! jangan datangi pelosok tanah nagari kami.
Tapi justru disinilah peluang friksi. Semacam anomali pembanding kontradiktif. Kelak, wisatawan jenis apa yang diharapkan punya moda antusiasme kadar specialty. Dibanding dengan hanya seorang anumerta (eng :posthumous) opa/papuk Alfred Russel #Wallace (ARW). Seorang dengan multi kepengen-tahuan. Demi obsesi penjelajahan Nusantara rela berjibaku. Durasi waktu ngelayap 8 tahun. Klo bukan asbab faktor terjangkit ghirah akut. Ngalah-ngalahi standar backpacker level super blehek. Hingga melahirkan karya fenomenal "the Malay Archipelago". 
Saya pribadi, yang saat ini bisa hinggap di kampung Melayu - Ampanam, Lombock (diplesetin sebagai Kamlay). Cuma secuil porsi Melayu dari mahligai besar Melayu Nusantara. Masih heran tanpa tapal batas. Kegilaan macam apa yang bisa membuatnya tergerak. Menyatukan niat, motivasi dan persepsi utuh. Demi kunjungan penuh muatan avonturir kepulauan. Salut!!!
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

Tidak ada komentar: